Selamat datang ikhwan akhwat...

Sabtu, 09 Juni 2012


A.    I’LAL
 I'lal adalah ilmu tata bahasa arab yang bertujuan untuk merubah huruf illat seperti Wau (و) , Alif (ا) dan Ya’(ي) , supaya ringan dan mudah dalam mengucapkannya. Adapun kaidahnya ada 19 yaitu :
1.    Wawu/Ya‟ diganti Alif (Ibdal)
إذَا تَحَرَّكَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ بَعْدَ فَتْحَةٍ مُتَّصِلَةٍ فِيْ كَلِمَتَيْهِمَا أُبْدِلَتَا آلِفًا مِثْلُ صَانَ أَصْلُهُ صَوَنَ وَبَاعَ أَصْلُهُ بَيَعَ.
Apabilah ada Wawu atau Ya’ berharkat, jatuh sesudah harkah Fathah dalam satu kalimah, maka Wawu atau Ya’ tersebut harus diganti dengan Alif seperti contoh صَانَ asalnya صَوَنَ , dan بَاعَ asalnya بَيَعَ .
Praktek I’lal :
صَانَ asalnya صَوَنَ ikut pada wazan فَعَلَ. Wawu diganti Alif karena ia berharkah dan sebelumnya ada Huruf berharkah Fathah, maka menjadi صَانَ.
Perhatian:
1)   Kaidah ini berlaku pada Wau atau Ya’ dengan Harkah asli. Apabila harkah keduanya bukan asli atau baru, maka tidak boleh dirubah. Contoh دَعَوُاالْقَوْمَ .
2)   Apabila setelah wawu atau ya’ itu ada huruf mati/sukun, maka diklarifikasikan sbb:
o   Jika Wawu atau Ya’ tsb bukan pada posisi Lam Fi’il, maka tidak boleh di-I’lal, karena dihukumi seperti Huruf Shahih. Contoh: بَيَانٌ, طَوِيْلٌ, خَوَرْنَقٌ.
o   Jika Wawu dan Ya’ tsb berada pada posisi Lam Fi’il, maka tetap berlaku Kaidah I’lal ini. Contoh يَخْشَوْنَ asalnya يَخْشَيُوْنَ . Namun disyaratkan huruf yg mati/sukun setelah Wawu dan Ya’ tsb bukan huruf Alif dan huruf Ya’ tasydid, maka yang demikian juga tidak boleh di-I’lal. Contoh: رَمَيَا, عَلَوِيٌّ, غَزَوَا.

2.    Syakal/Harakat/Tasykil/Tanda baca huruf Wau/Ya‟ Bina‟ Ajwaf, dipindah pada huruf sebelumnya.(Naql/memindah harokat)
إِذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ عَيْنًا مُتَحَرِّكَةً مِنْ أَجْوَفٍ وَكَانَ مَا قَبْلَهُمَا سَاكِنًا صَحِيْحًا نُقِلَتْ حَرْكَتُهُمَا إلىَ مَا قَبْلَهَا, نَحْوُ يَقُوْمُ أَصْلُهُ يَقْوُمُ, يَبِيْعُ أَصْلُهُ يَبْيِعُ.
Apabila wau atau ya’ berharokat berada pada ‘ain fi’il Bina’ Ajwaf dan huruf sebelumnya terdiri dari huruf Shahih yang mati/sukun, maka harakat wawu atau ya’ tersebut harus dipindah pada huruf sebelumnya. Contoh: يَقُوْمُ asalnya يَقْوُمُ dan يَبِيْعُ asalnya يَبْيِعُ.
Praktek I’lal:
يَقُوْمُ asalnya يَقْوُمُ ikut pada wazan يَفْعُلُ . harkah wawu dipindah pada huruf sebelumnya, karena wawu-nya berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih yg mati/sukun, untuk menolak beratnya mengucapkannya, maka menjadiيَقُوْمُ
Perhatian:
Perpindahan Syakal/Harakat/Tasykil/Tanda baca Wau atau Ya’ tersebut dalam Kaidah ini, tidak berlaku apabila setelah Wawu atau Ya’ terdapat Huruf yang di-tasydid-kan. Contoh: يَسْوَدُّ

3.    Wawu/Ya‟ dibelakang Alif Zaidah diganti Hamzah, pada Ain Fi‟il Isim Fa‟il atau akhir Isim Masdar (Ibdal)

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ بَعْدَ آلِفٍ زَائِدَةٍ أُبْدِلَتَا هَمْزَةً بِشَرْطِ أَنْ تَكُوْنَا عَيْنًا فِيْ اسْمِ الْفَاعِلِ وَطَرَفًا فِيْ مَصْدَرٍ, نَحْوُ صَائِنٌ أَصْلُهُ صَاوِنٌ, سَائِرٌ أَصْلُهُ سَايِرٌ, لِقَاءٌ أَصْلُهُ لِقَايٌ.
Apabila ada wawu atau ya’ jatuh sesudah alif zaidah, maka harus diganti hamzah, dengan syarat wau atau ya’ tersebut berada pada ‘Ain Fi’il kalimah bentuk Isim Fail, atau berada pada akhir kalimah bentuk masdar. Contoh: صَائِنٌ asalnya صَاوِنٌ dan سَائِرٌ asalnya سَايِرٌ dan لِقَاءٌ asalnya لِقَايٌ
Praktek I’lal:
صَائِنٌ asalnya صَاوِنٌ ikut pada wazan فَاعِلٌ . wawu diganti Hamzah, karena jatuh sesudah Alif Zaidah dan berada pada ‘Ain Fi’il Isim Fa’il, maka menjadi صَائِنٌ
4.    Wau diganti Ya‟ karena berkumpul dalam satu kalimah dan yg pertama sukun
إِذَا اجْتَمَعَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ فِيْ كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ وَسَبَقَتْ اِحْدَاهُمَا بِالسُّكُوْنِ اُبْدِلَتِ الْوَاوُ يَاءً وَاُدْغِمَتِ الْيَاءُ اْلأُوْلَى فِي الثَّانِيَّةِ نَحْوُ مَيِّتٌ أَصْلُهُ مَيْوِتٌ وَمَرْمِيٌّ أَصْلُهُ مَرْمُوْي.

Apabila wau dan ya’ berkumpul dalam satu kalimah dan salah satunya didahului dengan sukun, maka wau diganti ya’. Kemudian ya’ yang pertama di-idgham-kan pada ya’ yang kedua. Contoh lafadz مَيِّتٌ  asalnya adalah مَيْوِتٌ dan مَرْمِيٌّ asalanya adalah مَرْمُوْيٌ

Praktek I’lal:
مَيِّتٌ asalnya مَيْوِتٌ mengikuti wazan فَيْعِلٌ . wau diganti ya’ karena berkumpul dalam satu kalimah dan salah satunya didahului dengan sukun, maka menjadi مَيْيِتٌ. Kemudian ya’ yang pertama di-idghamkan pada ya’ yang kedua karena satu jenis, maka menjadi مَيِّتٌ

5.      Harakah Dhammah wau atau ya‟ di akhir kalimah diganti Sukun
إِذَا تَطَرَّفَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ وَكَانَتَا مَضْمُوْمَةً اُسْكِنَتَا نَحْوُ يَغْزُوْا أَصْلُهُ يَغْزُوُ وَيَرْمِيْ أَصْلُهُ يَرْمِيُ


Apabila Wau atau Ya’ menempati ujung akhir kalimah, dan ber-harakah dhammah, maka disukunkan. Contoh: يَغْزُوْا asalnya يَغْزُوُ dan يَرْمِيْ asalnya يَرْمِيُ
Praktek I’lal:
يَغْزُوْ asalnya يَغْزُوُ mengikuti wazan يَفْعُلُ . Wau di ujung akhir kalimah ber-harakah dhammah, maka disukunkan menjadi يَغْزُوْ.

Perhatian:
غَازٍ
غَازٍ asalnya غَازِوٌ mengikuti wazan فَاعِلٌ . Wau diganti Ya’, karena jatuh sesudah harakah kasrah, maka menjadi غَازِيٌ, kemudan Ya’ disukunkan karena beratnya harkah dhammah atas Ya’ maka menjadi غَازٍيْ, kemudian Ya’ dibuang untuk menolak bertemunya dua mati yaitu Ya’ dan Tanwin, maka menjadi غَازٍ

6.      Wau akhir kalimah empat huruf atau lebih, diganti Ya’
اِذَا وَقَعَتِ الوَاوُ رَابِعَةً فَصَاعِدًا فِى الطَّرْفِ وَلَمْ يَكُنْ مَا قَبْلَهَا مَضْمُوْمًا اُبْدِلَتْ يَاءً. نَحْوُ
يَرْضَى اَصْلُهُ يَرْضَوُ.
Apabila wau menempati ujung akhir kalimah empat huruf atau lebih, dan sebelum wau tidak ada huruf yang didhammahkan, maka wau tsb diganti ya’. Contoh يَرْضى  aslinya  يَرْضَوُ.
يَرْضَى  asalnya  يَرْضَوُmengikuti wazan يَفْعَلُ wau diganti ya‟, karena berada pada akhir kalimah empat huruf dan sebelumnya bukan huruf yang didhammahkan, maka menjadi  يَرْضَى.
7.    Membuang Wau setelah Huruf Mudhara‟ah diantara Fathah dan Dhammah
اِذَا وَقَعَتِ الوَاوُ بَيْنَ الفَتْحَةِ وَالْكَسْرَةِ المُحَقَّقَةِ وَقَبْلَهَا حَرْفُ المُضَارَعَةِ تُحْذَفُ. نَحْوُ يَعِدُ اَصْلُهُ يَوْعِدُ.
Apabila wau ada diantara harkah fathah dan kasrah nyata, dan sebelumnya ada huruf mudhara‟ah, maka wau tersebut dibuang. Contoh:  يَعِدُ asalnya يَوْعِدُ.
I’lal :
يَعِدُ  asalnya يَوْعِدُ mengikuti wazan يَفْعِلُ . wau dibuang karena ada diantara fathah dan kasrah nyata dan sebelumnya ada huruf mudhara‟ah, maka menjadi يَعِدُ
8.    Wau setelah harkah kasrah diganti Ya’
اِذَا وَقَعَةِ الوَاوُ بَعْدَ كَسْرَةٍ فِى اِسْمٍ اَوْ فِعْلٍ اُبْدِلَتْ يَاءً. نَخْوُ رَضِىَ اَصْلُهُ رَضِوَ
Bilmana ada Wau jatuh setelah harkah Kasrah dalam Kalimah Isim atau Kalimah Fi‟il, maka Wau tersebut harus diganti Ya‟. Contoh: رَضِىَ  asalnya رَضِوَ.
I’lal :
رَضِىَ asalnya رَضِوَ mengikuti wazan فَعِلَ, wau diganti Ya‟ karena jatuh sesudah harkah kasrah, maka menjadi  . رَضِىَ
9.    Huruf Illah Wau/Ya‟ dibuang untuk menolak bertemu-nya dua huruf mati
اِذَا لَقِيَتَ الْوَاوُ وَالْيَاءُ السَّاكِنَتَانِ بِحَرْفٍ سَاكِنٍ آخَرَ حُذِفَتَا. نَخْوُ صُنْ اَصْلُهُ اُصْوُنْ.
Bilamana ada Wau atau Ya‟ sukun, bertemu dengan husuf sukun lainnya, maka Wau tau Ya‟ tersebut dibuang, Contoh: صُنْ asalnya اُصْوُنْ
I’lal
صُنْ asalnya اُصْوُنْ mengikuti wazan اُفْعُلْ , harakah Wau dipindah ke huruf sebelumnya, karena Wau berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih mati/sukun (lihat Kaidah I‟lal ke 2) untuk menolak beratnya mengucapkan, maka menjadi اُصُوْنْ, maka Wau dibuang untuk menolak bertemunya dua mati/sukun, maka menjadi اُصُنْ, kemudian Hamzah Washal-nya dibuang karena tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi صُنْ.
10.     Dua huruf sejenis/hampir sama makhraj-nya harus di-idghamkan
اِذَا اجْتَمَعَ فِىْ كَلِمَةٍ حَرْفَانِ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ اَوْ مُتَقَارِبَانِ فِى الْمَخْرَجِ يُدْغَمُ الاَوَّلُ فِى الثَّانِىْ بَعْدَ جَعْلِ المُتَقَارِبَيْنِ مِثْلَ الثَانِىْ لِثَقْلِ المُكَرَّرِ. نَحْوُمَدَّ اَصْلُهُ مَدَدَ. 
Bilamana ada dua huruf sejenis atau hampir sama makhrajnya berkumpul dalam satu kalimah, maka huruf yang pertama harus di-idghamkan pada huruf yang kedua,–ini setelah menjadikan huruf yang hampir sama makhrajnya serupa dengan huruf yg kedua (lihat kaidah i‟lal ke 18 insyaallah)–, karena beratnya pengulangan/memilah-milahnya. contoh مَدَّ asalnya مَدَدَ.
I’lal
مَدَّ asalnya مَدَدَ mengikuti wazan فَعَلَ, huruf dal yang pertama disukunkan untuk melaksanakan syarat Idgham, maka menjadi مَدْدَ, kemudian huruf Dal yang pertama di-idgamkan pada huruf Dal yang kedua, maka menjadi مَدَّ
11.     Dua Hamzah berkumpul yang kedua diganti huruf yg sesuai dengan Harakah sebelumnya
الهَمْزَتَانِ اِذَا الْتَقَاتَ فِى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ ثَانِيَتُهُمَا سَاكِنَةٌ وَجَبَ اِبْدَالُ الثَّانِيَةِ بِحَرْفٍ نَاسَبَ اِلَى حَرَكَةِ الاُوْلَى. نَحْوُ : ءَامَنَ اَصْلُهُ أَأْمَنَ.
Bilamana terdapat dua huruf Hamzah berkumpul sejajar dalam satu kalimah, yang nomor dua sukun, maka huruf hamzah ini harus diganti dengan huruf yang sesuai dengan harakah Hamzah yang pertama. contoh ءَامَنَ asalnya أَأْمَنَ.
I’lal
ءَامَنَ asalnya أَأْمَنَ mengikuti wazan أَفْعَلَ; berkumpul dua Hamzah dalam satu kalimah dan yang kedua sukun, maka hamzah yang kedua tsb diganti alif, karena ia sukun dan sebelumnya ber-harkah fathah. maka menjadi ءَامَنَ.
12.     Dua Hamzah berkumpul yang kedua diganti huruf yg sesuai dengan Harakah sebelumnya
اِنَّ الوَاوَ وَالْيَاءَ السَّاكِنَتَيْنِ لَا تُبْدَلَانِ اَلِفًا اِلَاّ اِذَا كَانَ سُكُوْنُهُمَا غَيْرَ اَصْلِىٍّ بِاَنْ نُقِلَتْ حَرْكَتُهُمَا اِلَى مَا قَبْلَهُمَا، نَحْوُ اَبَانَ اَصْلُهُ اَبْيَنَ.
Wau atau ya‟ yang sukun, keduanya tidak boleh diganti Alif, kecuali jika sukunnya tidak asli –dengan sebab pergantian harkat keduanya pada huruf sebelumnya– (lihat kaidah ilal ke 2). Contoh: اَبَانَ asalnya اَبْيَنَ .
I’lal
اَبَانَ asalnya اَبْيَنَ mengikuti wazan أَفْعَلَ harkah Ya‟ dipindah pada huruf sebelumnya karena ia berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih sukun, karena beratnya mengucapkan, maka menjadi اَبْيَنَ (lihat kaidah I‟lal ke 2). Kemudian Ya‟ diganti Alif, karena asalnya Ya‟ berharkah dan sekarang ia jatuh sesudah harkah fathah (lihat kaidah I‟lal ke 1). Maka menjadi اَبَانَ.
13.     Wau akhir isim mutamakkin setelah dhammah diganti ya’
اِذَا وَقَعَةِ الوَاوُ طَرَفًا بَعْدَ ضَمٍّ فِى اِسْمٍ مُتَمَكِّنٍ فِى الأَصْلِ اُبْدِلَتْ يَاءً فَقُلِبَتْ الضَمَّةُ كَسْرَةً بَعْدَ تَبْدِيْلِ الوَاوِ يَاءً، نَحْوُ تَعَاطِيًا اَصْلُهُ تَعَاطُوًا.
Bilamana ada wau berada di akhir kalimah jatuh sesudah harkah dhammah didalam asal kalimah Isim yang Mutamakkin (bisa menerima tanwin), maka wau tsb diganti ya‟, kemudian setelah itu harkah dhammah diganti kasrah. Contoh: تَعَاطِيًا asalnya تَعَاطُوًا. 
I’lal
تَعَاطِيًا asalnya تَعَاطُوًا mengikuti wazan تَفَاعُلًا wau diganti ya‟ karena berada di akhir kalimah Isim Mutamakkin dan sebelumnya ada harkah dhammah, maka menjadi kemudian huruf Tha‟nya dikasrahkan untuk memantaskan Ya‟. Maka menjadi تَعَاطِيًا.
14.  Ya‟ sukun setelah dhammah harus diganti wau

إِذَا كَانَتِ الْيَاءُ سَاكِنَةً وَكَانَ مَا قَبْلَهَا مَضْمُوْمًا أُبْدِلَتْ وَاوًا نَحْوُ يُوْسِرُ وَ مُوْسِرٌ أَصْلُهُمَا يُيْسِرُ وَ مُيْسِرٌ

Apabila ada Ya’ yang mati dan sebelumnya adalah huruf yang berharokat Dlommah maka huruf Ya’ harus diganti dengan Wawu. contoh: يُوْسِرُ   dan مُوْسِرٌ asalnya يُيْسِرُ  danمُيْسِرٌ
Praktek I’lal:
يُوْسِرُ  asalnya يُيْسِرُ  mengikuti wazan يُفْعِلُ  Ya’ yang  kedua diganti dengan Wawu karena huruf Ya’ mati dan huruf sebelumnya adalah huruf yang berharokat Dlommah,maka menjadi يُوْسِرُ .
15.  Isim Maf‟ul dari Fi‟il Mu‟tal „Ain, Wau Maf‟ulnya dibuang menurut Imam Sibawaihi

إِنَّ اسْمَ الْمَفْعُوْلِ إذَا كَانَ مِنْ مُعْتَلِّ الْعَيْنِ وَجَبَ حَذْفُ وَاوٍ الْمَفْعُوْلِ مِنْهُ عِنْدَ سِيْبَوَيْهِ  نَحْوُ مَصُوْنٌ وَ مَسِيْرٌ أَصْلُهُمَا مَصْوُوْنٌ وَ مَسْيُوْرٌ

Sesungguhnya Isim Maf’ul apabila‘Ain Fi’ilnya berupa huruf ‘Ilat (Bina’ Ajwaf) maka wajib membuang Wawu Maf’ulnya menurut Imam Syibawaeh (menurut Imam lain yg dibuang adalah Ain Fi’ilnya). contoh: مَصُوْنٌ dan مَسِيْرٌ asalnya مَصْوُوْنٌ dan  مَسْيُوْرٌ
Praktek I’lal:
مَصُوْنٌ   asalnya  مَصْوُوْنٌ  mengikuti wazan  مَفْعُوْلٌ  Harokat Wawu dipindah  pada huruf sebelumnya karena Wawu berharokat dan huruf sebelumnya adalah huruf shohih yang mati untuk menolak beratnya mengucapkan, maka menjadi مَصُوْوْنٌ ( lihat kaidah ke 2 ),maka terjadilah pertemuan dua huruf yang mati,yaitu Wawu yang pertama adalah Wawu ‘Ain Fi’il dam Wawu yang kedua adalah Wawu Maf’ul maka Wawu Maf”ulnya di buang untuk mencegah bertemunya dua huruf yang mati (menurut Imam Sibawaeh),maka menjadi مَصُوْنٌ .
16.  Huruf Ta‟ pada wazan diganti Tha‟

إِذَا كَانَ الْفَاءُ اِفْتَعَلَ صَادًا أَوْ ضَادًا أَوْ طَاءً أَوْ ظَاءً قُلِبَتْ تَاؤُهُ طَاءً لِتَعَسُّرِ النَّطْقِ بِهَا بَعْدَ هَذِهِ الْحُرُوْفِ وَإِنَّمَا تُقْلَبُ التَّاءُ بِالطَّاءِ لِقُرْبِهِمَا مَخْرَجًا نَحْوُ اِصْطَلَحَ وَ اِضْطَرَبَ وَ إِطَّرَدَ وَ  اِظَّهَرَ أصْلهَا اِصْتَلَحَ وَ اِضْتَرَبَ وَ اِطْتَرَدَ وَ اِظتَهَرَ

 

Apabila ada Fa’ Fi’il dari wazan اِفْتَعَلَ  berupa huruf Shod,Dhod,Tho’ dan Dzo’(huruf Ithbaq),maka huruf  Ta’ yag jatuh sesudah huruf Ithbaq tersebut harus diganti Tha’,karena sulitnya mengucapkan huruf Ta’ yang jatuh setelah huruf Ithbaq.Digantinya Ta’ dengan Tho’ itu karena berdekatanya makhrojnya Ta’ dan Tho’. Contoh   اِصْطَلَحَ, اِضْطَرَبَ,إِطَّرَدَ  dan اِظَّهَرَ asalnya اِصْتَلَحَ, اِضْتَرَبَ, اِطْتَرَدdan اِظتَهَرَ  .
Praktek I’lal:
اِصْطَلَحَ asalnya  اِصْتَلَحَ  mengikuti wazan  اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Tho’ karena sulitnya mengucapkan Ta’ yang jatuh setelah huruf Ithbaq dan karena saling berdekatannya makhrajnya Ta’ dan Tho’,maka menjadi اِصْطَلَحَ.
Huruf Isti’la’ ada 7 yaitu: خ, ص, ض, غ, ط, قِdanظ

AL-QO'IDAH

Apabila ada Wawu dan Ya’ berharokat dan huruf sebelumnya adalah huruf yang berharokat fathah maka:
  Jika Harokat Wawu dan Ya’ tersebut adalah Asli maka Wawu dan Ya’ tersebut harus diganti Alif Contoh: صَانَ  dan بَاعَ  asalnya صَوَنَ dan بَيَعَ
  Jika Harokat Wawu dan Ya’ tersebut adalah tidak Asli maka tidak boleh dirubah Contoh: دَعَوُاالْقَوْمَ  asalnya   دَعَوْا أَلْقَوْمَ
Apabila setelah wawu dan Ya’ itu adalah huruf yang mati,maka diklarifikasikan sebagai berikut:
  Jika Wawu atau Ya’ tidak pada posisi Lam Fi’il, maka tidak boleh di I’lal, karena dihukumi seperti Huruf Shahih. Contoh: بَيَانٌ, طَوِيْلٌ, خَوَرْنَقٌ.
  Jika Wawu dan Ya’ berada pada posisi Lam Fi’il, maka tetap berlaku Kaidah I’lal ini. Contoh يَخْشَوْنَ asalnya يَخْشَيُوْنَ . Namun disyaratkan huruf yang mati setelah Wawu dan Ya’ tersebut bukan huruf Alif dan huruf Ya’ yang ditasydid,maka yang demikian juga tidak boleh di-I’lal. Contoh: رَمَيَا dan عَلَوِيٌّ
17.  Huruf Ta‟ pada wazan  اِفْتَعَلَdiganti Dal

إِذَا كَانَ فَاءُ اِفْتَعَلَ دَالاً أوْ ذَالاً أوْ زَايًا قُلِبَتْ تَاؤُهُ دَالاً لِعُسْرِالنُّطْقِ بِهَا بَعْدَ هَذِهِ الْحُرُوْفِ وَإنَّمَا تُقْلَبُ التَّاءُ بِالدَّالِ لِقُرْبِهِمَا مَخْرَجًا نَحْوُ اِدَّرَأَ وَ اِذَّكَرَ وَ اِزْدَجَرَ أصْلهَا اِدْتَرَأَ وَ اِذْتَكَرَ وَ اِزْتَجَرَ.

 

Apabila ada Fa’ Fi’il  wazan  اِفْتَعَلَ berupa huruf Dal,Dzal dan Za’,maka huruf Ta’ (Ta’ zaidah wazan اِفْتَعَلَ ) yang jatuh sesudah huruf Dal,Dzal dan Za’ harus diganti Dal,karena sulitnya mengucapkan Ta’ yang jatuh setelah huruf Dal,Dzal dan Za’. Digantinya Ta’ dengan Dal’ karena huruf Dal dan Ta’ berdekatan didalam makhrojnya. Contoh: ئِدَّرَأَ ,اِذَّكَرَ   dan اِزْدَجَرَ  asalnya اِدْتَرَأَ , اِذْتَكَرَdan اِزْتَجَرَ.
Praktek I’lal:
اِدَّرَأَ asalnya اِدْتَرَأَ mengikuti wazan  اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Dal karena sulitnya mengucapkan huruf Ta’ yang jatuh  setelah huruf Dal dan karena Ta’ dan Dal saling berdekatan didalam Makhrojnya, maka menjadi  اِدْدَرَأَ. kemudian Dal  yang pertama di-idghomkan pada Dal  yang  kedua  karena  sejenis, maka menjadi  اِدَّرَأَ.
18.     Fa‟ Fi‟il pada wazan اِفْتَعَلَ diganti Ta

إِذَا كَانَ فَاءُ اِفْتَعَلَ وَاوًا أوْ يَاءً أوْ ثَاءً قُلِبَتْ فَاؤُهُ تَاءً لِعُسْرِالنُّطْقِ بِحَرْفِ اللَّيْنِ السَّاكِنِِ لِمَا بَيْنَهُمَا مِنْ مُقَارَبَةِ الْمَخْرَجِ وَمُنَافَاةِ الْوَصْفِ ِلأَنَّ حَرْفَ اللَّيْنِ مَجْهُوْرَةٌ وَالتَّاءُ مَهْمُوْسَةٌ  نَحْوُ اِتَّصَلَ وَ اِتَّسَرَ وَ اِثَغَرَ أصْلهَا اِوْتَصَلَ وَ اِيْتَسَرَ وَ اِثَتَغَرَ.

 

Apabila ada kalimat mengikuti wazan اِفْتَعَلَ dan Fa’ Fi’ilnya berupa huruf wau,Ya’ atau Tsa’, maka huruf  Fa’ Fi’ilnya tersebut harus diganti Ta’,karena sulitnya mengucapkah huruf “Layn” (لَيْن) yang mati yang bertemu dengan huruf Ta’.Dan diantara keduanya termasuk berdekatan Makhrojnya dan berbeda sifatnya, karena huruf “layn” (و  ي) bersifat Jahr  sedangkan huruf  Ta’ bersifat Hams. Contoh: اِتَّصَلَ , اِتَّسَرَdanاِثَغَرَ asalnya اِوْتَصَلَ , اِيْتَسَرَ dan اِثَتَغَرَ
Praktek I’lal:
اِتَّصَلَ asalnya  اِوْتَصَلَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Vawu diganti Ta’ karena sulitnya mengucapkah huruf “Layn” (لَيْن) yang mati yang bertemu dengan huruf Ta’.Dan diantara keduanya termasuk berdekatan Makhrojnya dan berbeda sifatnya, karena huruf “layin” (و  ي) bersifat Jahr  sedangkan huruf  Ta’ bersifat Hams, maka menjadi اِتْتَصَلَ  kemudian Ta’ yang pertama diidghomkan pada Ta’ yang kedua karena keduanya adalah huruf yang sejenis maka menjadi  اِتَّصَلَ.

وَإنْ كَانَ ثَاءً يَجُوْزُ قُلْبُ تَاءِ اِفْتَعَلَ ثَاءً ِلاتِّحَادِهِمَا فِي الْمَهْمُوْسِيَّةِ نَحْوُ اِثَغَرَ أَصْلُهُ اِثَتَغَرَ.

Apabila ada Fa’ fi’il dari kalimat yang mengikuti wazan اِفْتَعَلَ berupa Tsa’,maka boleh mengganti Ta’ dengan Tsa’ karena keduanya sama-sama memilik sifat Hams.Contoh: اِثَغَرَ asalnya اِثَتَغَرَ .
Praktek I’lal:
 اِثَغَرَ asalnya اِثَتَغَرَ mengikuti wazan  اِفْتَعَلَ huruf Ta’ diganti Tsa’ karena sama-sama bersifat Hams, maka menjadi اِثَثَغَرَ kemudian Tsa’yang pertama diidghomkan pada Tsa’yang keduanya karena keduanya adalah huruf yang sejenis,maka menjadi  اِثَغَرَ .
Huruf Hams ada 10 Yaitu: ,ك,س,ص,خ,ش, هـ ,ِث,ح,ف dan ت 
اِتَّخَذَ asalnya اِئْتَخَذَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ huruf Hamzah yang kedua diganti  Ya’ karena Hamzah mati dan huruf sebelumnya adalah huruf yang berharokat kasroh,maka menjadi اِيْتَخَذَ kemudian huruf Ya’ diganti Ta’ (tanpa mengikuti kias*)kemudian Ta’ yang pertama diidghomkan pada Ta’ yang kedua karena sejenis,maka menjadi اِتَّخَذَ.
Pergantian Ya’ dengan Ta’ tidak mengikuti Qias yakni termasuk dari perihal Syadz (langka).
19. Huruf Ta‟ wazan تَفَعَّلَ dan  تَفَاعَلَdiganti dg huruf yang berdekatan makhrajnya

إذَا كَانَ فَاءُ تَفَعَّلَ وَتَفَاعَلَ تَاءً أَوْ ثَاءً أوْ دَالاً أوْ ذَالاَ أَوْ زَايًا أوْ سِيْنًا أَوْ شِيْنًا أَوْ صَادًا أَوْ ضَادًا أَوْ طَاءً أَوْ ظَاءً يَجُوْزُ قَلْبُ تَائِهِمَا بِمَا يُقَارِبُهُ فِِي الْمَخْرَجِ ثُمَّ أُدْغِمَتِ اْلاُوْلَى فِي الثَّانِيَّةِ بَعْدَ جَعْلِ أَوَّلِالْمُتَقَارِبَيْنِ مِثْلَ الثَّانِيْ لِلْمُجَانَسَةِ مَعَ اجْتِلاَبِ هَمْزَةِ الْوَصْلِ لِيُمْكِنَ اْلاِبْتِدَاءُ بِالسَّاكِنِ نَحْوُ اِتَّرَسَّ وَاِثَّاقَلَ وَاِدَّثَّرَ واِذَّكَّرَ وَاِزَّجَّرَ وَاِسَّمَّعَ وَاِشَّقَّقَ وَ اِصَّدَّقَ وَاِضَّرَّعَ وَاِظَّهَّرَ وَاِطَّاهَرَ أصْلهَا تَتَرَّسَ وَ تَثَاقَلَ وَ تَدَثَّرَ وَ تَذَكَّرَ وَ تَزَجَّرَ وَ تَسَمَّعَ وَ تَشَقَّقَ وَ تَصَدَّقَ وَ تَضَرَّعَ وَ تَظَهَّرَ وَ تَطَاهَرَ.

 

Apabila ada kalimat yang mengikuti Wazan  تَفَعَّلَ dan تَفَاعَلَ dan Fa’ Fi’ilnya berupa  huruf ت ث، د، ذ، ز، س, ش, ص ض,, ط,ظ  ,maka Ta’ dari kedua wazan tersebut boleh diganti dengan huruf yang mendekati dalam Makhrojnya (ت s/d ظ ),kemudian huruf yang pertama diidghomkan pada huruf yang kedua,demikian ini setelah huruf yang pertama dari kedua huruf yang berdekatan makhrojnya tersebut dijadikan serupa dengan huruf yang kedua serta memasang Hamzah Washol untuk mengawali huruf yang mati. Contoh:  اِتَّرَسِ ,  اِثَّاقَلَ,  اِدَّثَّرَ,  اِذَّكَّرَ,  اِزَّجَّرَ,  اِسَّمَّعَ,  اِشَّقَّقَ,  اِصَّدَّقَ,  اِضَّرَّعَ, اِظَّهَّرَdan اِطَّاهَرَ asalnya تَتَرَّسَ, تَثَاقَلَ, تَدَثَّرَ, تَذَكَّرَ, تَزَجَّرَ, تَسَمَّعَ, تَشَقَّقَ, تَصَدَّقَ, تَضَرَّعَ, تَظَهَّرَ dan تَطَاهَرَ . 
Praktek I’lal :
اِتَّرَسَ  asalnya  تَتَرَّسَ  mengikuti wazan  تَفَعَّلَ  huruf  Ta’ yang pertama disukun sebagai  syarat idghom maka menjadi تْتَرَّسَ  maka Ta’ yang pertama diidghomkan  pada  Ta’ yang kedua karena sejenis serta mendatangkan Hamzah Washol di permulaannya supaya memungkinkan mendahului membaca huruf yang mati.Maka menjadi اِتَّرَسَ
Lafadz  اِدَّثَّرَ, اِذَّكَّرَ, اِزَّجَّرَ, اِسَّمَّعَ, اِشَّقَّقَ, اِصَّدَّقَ, اِضَّرَّعَ, اِظَّهَّرَ  dan اِطَّاهَرَ .dapat diI’lal dengan diikutkan pada peng-I’lalan pada lafadz اِثَّاقَلَ.
SEMOGA BERMANFAAT IKHWAN AKHWAT.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar